Pernah takut kerjaan udah kelar tapi klien tiba-tiba hilang? Atau sebagai klien, khawatir uang muka udah ditransfer tapi freelancer ghosting? Nah, ini nih dilema klasik di platform freelance. Sribulancer coba jawab dengan fitur SafePay, tapi apakah beneran aman atau cuma gimmick? Gue bakal bongkar mekanismenya pakai pengalaman nyata—tanpa filter.

Apa Itu SafePay Sribulancer?
Bayangin SafePay itu seperti rekening bersama. Klien transfer dana ke akun Sribulancer, bukan ke rekening freelancer langsung. Uang bakal dipegang aman sampai kerjaan selesai dan keduanya setuju buat lepaskan. Mekanisme ini mirip escrow, tapi dengan nama lokal yang lebih familiar.
Konsepnya sederhana. Klien buat proyek, freelancer bid, terus begitu deal, klien top-up SafePay. Baru deh freelancer mulai kerja. Uang cair ke freelancer kalau klien klik “Setujui Pekerjaan”. Kalau ada masalah, Sribulancer bisa jadi mediator.
Flow Transaksi yang Gue Amati
- Klien deposit dana (minimal 50% dari nilai proyek)
- Freelancer mulai eksekusi setelah dana terkonfirmasi
- Revisi dan komunikasi berjalan di dalam platform
- Klien review deliverables dan approve
- Dana cair ke freelancer dalam 3-5 hari kerja
Pengalaman Nyata: Dari Sisi Freelancer
Gue pernah ambil proyek bikin company profile senilai 8 juta rupiah. Klien top-up SafePay 100% di awal, dan itu langsung bikin tenang. Gue tahu dana ada, bukan janji muluk-muluk. Beda banget sama pengalaman gue di platform lain yang masih harus nge-chase invoice berkali-kali.
Namun, ada catch. Dana nggak langsung cair begitu kirim file. Klien punya waktu 7 hari buka review. Kalau klien lalai klik approve, otomatis setelah 7 hari dana bakal cair. Tapi ini bisa jadi boomerang kalau klien tiba-tiba muncul hari ke-6 dengan revisi bombastis.
Perhatian: SafePay melindungi, tapi nggak menjamin proses revisi mulus. Komunikasi tetap kunci.
Fee yang dipotong dari freelancer juga lumayan: 10% dari nilai proyek plus PPN 11%. Jadi total 11.1% hilang dari penghasilan. Buat proyek 8 juta, gue cairkan sekitar 7,1 jutaan. Nggak sedikit, tapi gue rasa wajar buat fitur escrow.
Pengalaman Nyata: Dari Sisi Klien
Sebagai klien, gue pernah hire translator buat dokumen legal. Bayar 3 juta via SafePay. Freelancer kirim hasil translate yang quality-nya nanggung—banyak typo dan konteks salah. Gue tolak dan minta revisi. Freelancer ngeyel, bilal itu sudah “best effort”.
Disini Sribulancer mediator masuk. Gue lapor dispute, kasih bukti screenshot typo dan konteks salah. Prosesnya butuh waktu 4 hari. Akhirnya mediator sepakati revisi wajib atau refund 50%. Freelancer milih revisi, dan akhirnya selesai. Jadi ya, aman, tapi butuh kesabaran.
Keuntungan Klien yang Gue Rasakan
- Freelancer lebih responsif karena dana udah ada
- Garansi revisi jelas sampai deal
- Mediator obyektif, nggak selalu benarkan klien
- Bisa request refund parsial kalau pekerjaan nggak selesai 100%
Biaya dan Durasi: Angka Jelasnya
Biaya SafePay nggak cuma potongan freelancer. Klien juga kena charge saat top-up. Gue rangkum dari beberapa transaksi:
| Jenis Biaya | Nominal | Keterangan |
|---|---|---|
| Top-up klien | 2.9% + Rp 5.000 | Via transfer bank atau kartu kredit |
| Penarikan freelancer | 10% + PPN 11% | Dipotong otomatis saat pencairan |
| Durasi pencairan | 3-5 hari kerja | Setelah klien approve |
| OTOMatis approve | 7 hari kalender | Kalau klien nggak respon |
Untuk penarikan, gue pernah coba ke BCA. Hari Jumat malam approve, dana masuk Rabu pagi. Jadi ya, emang butuh waktu. Nggak instan kayak transfer biasa.
Kelemahan yang Perlu Diketahui
Fitur ini jauh dari sempurna. Ada beberapa pain point yang sering gue denger dari komunitas freelancer:
Pertama, bug notifikasi. Kadang klien udah approve, tapi notifikasi nggak masuk. Freelancer harus manual cek dashboard. Ini bikin panik, apalagi kalau lagi butuh dana cepat.
Kedua, dispute resolution bisa lambat. Kalau masalahnya kompleks, bisa 1-2 minggu. Ini bikin freelancer cashflow tersendat. Gue pernah dispute proyek 2 juta yang akhirnya selesai tapi butuh 10 hari. Lama banget.
Ketiga, minimum top-up 50% kadang jadi hambatan buat klien kecil. Buat proyek 20 juta, 10 juta di awal itu besar. Banyak klien yang ogah dan milih bayar di luar. Ini risky banget, tapi realitanya banyak yang nego begini.
Warning: Jangan pernah setujui transaksi di luar SafePay, sekalipun klien janji bayar lebih. Sekali scam, platform nggak bakal tanggung jawab.
Bandling SafePay vs Direct Payment
Di Sribulancer, masih ada opsi bayar langsung. Gue bikin perbandingan praktis:
| Aspek | SafePay | Direct Payment |
|---|---|---|
| Keamanan freelancer | Tinggi, dana terjamin | Risiko tinggi, bisa nggak dibayar |
| Keamanan klien | Tinggi, ada garansi | Rendah, freelancer bisa kabur |
| Fee total | 12-13% (klien + freelancer) | 0%, tapi risiko besar |
| Kecepatan cair | 3-5 hari kerja | Langsung (kalau klien beneran bayar) |
| Mediator | Tersedia | Nggak ada |
Intinya, direct payment cuma buat klien yang udah trusted banget. Kalau baru pertama kali, SafePay adalah must.
Tips Praktis Agar Aman di SafePay
Berdasarkan pengalaman pahit manis, ini checklist gue:
Buat freelancer:
- Selalu tunggu status SafePay “Funded” sebelum mulai kerja. Screenshot bukti.
- Komunikasi selalu di dalam platform. Jangan WA atau Telegram soal revisi.
- Kirim hasil kerja via Sribulancer, bukan email pribadi.
- Atur milestone jelas. Kalau proyek besar, pecah jadi 2-3 fase dengan SafePay terpisah.
Buat klien:
- Top-up perlahan sesuai milestone. Nggak perlu 100% di awal kalau proyek panjang.
- Review deliverables dalam 2-3 hari. Jangan tunggu 7 hari otomatis.
- Dokumentasikan brief dan revisi di chat platform. Jadi bukti dispute kuat.
- Cek profile freelancer: rating, ulasan detail, dan portofolio yang diverifikasi.
Alternatif Kalau SafePay Nggak Cocok
Beberapa freelancer gue kenal pindah ke platform lain karena fee Sribulancer dianggap tinggi. Kalau lo merasa sama, cek opsi ini:
Upwork punya escrow juga tapi fee lebih kompleks: 10% untuk proyek pertama $500, turun jadi 5% kalau udah miliaran. Tapi kompetisi lebih gila dan harus pakai bahasa Inggris.
Freelancer.com juga punya milestone system, tapi interface-nya lebih rumit. Fee projectnya 10% atau $5 (mana yang lebih tinggi). Kalau Sribulancer lebih lokal dan support Bahasa.
Platform lokal lain seperti Fastwork atau Projects.co.id juga punya escrow tapi volume proyek lebih sedikit. SafePay Sribulancer masih lebih unggul dari segi UI/UX dan jumlah proyek.
Kapan SafePay Worth It?
SafePay paling ideal buat proyek di atas 1 juta dengan klien baru. Kalau proyek cuma 200-500 ribu, fee 12% itu terasa banget. Bisa jadi lebih worth it ambil direct payment dengan klien yang udah pernah kerjasama.
Kesimpulan: Aman, Tapi Bukan Sempurna
Jujur, SafePay itu aman dan recommended buat mayoritas transaksi. Mekanismenya transparan, mediator responsif, dan nyatanya melindungi kedua belah pihak. Tapi jangan jadi alasan lo lengah. Komunikasi jelas, dokumentasi lengkap, dan pilih klien/freelancer dengan cermat tetap kunci utamanya.
Fee 11-13% memang agak bikin sesak, tapi itu harga untuk tidur nyenyak. Bayangin aja kalau lo kehilangan 100% fee proyek karena scam. Tiba-tiba 13% jadi terasa murah, kan?
SafePay itu seperti asuransi: nggak perlu kamu seneng bayar premi-nya, tapi kamu bersyukur ada waktu kecelakaan terjadi.
Platform ini cocok buat freelancer Indonesia yang mau fokus pasar lokal tanpa ribet mikirin rate dollar. Klien juga lebih nyaman pakai rupiah dan transfer bank lokal. Asal lo paham limitasinya, SafePay bisa jadi teman setia di dunia freelance yang penuh ketidakpastian ini.