Hai, dapat DM dari klien yang bilang, “Hai, bisa pindah ke Telegram? Di sini lama responnya.” Kalau kamu pernah dapet pesan kayak gini, jangan langsung senang. Bisa jadi itu red flag pertama dari modus scam yang lagi marak di platform freelance lokal. Saya sendiri pernah kena tipu dua kali, dan sekarang belajar banyak dari kesalahan bodoh itu. Artikel ini adalah semacam curhat berisi pelajaran konkret, bukan teori manis.
Kenapa Telegram Jadi Surga Scammer?
Tentu saja bukan salah app-nya, tapi fiturnya yang dimanfaatkan. Telegram itu anonim, chat bisa dihapus permanen, dan traceability-nya rendah. Scammer bisa bikin akun palsu dalam 30 detik, pakai username @CEOCompany123, foto profil orang nganggur di Google, dan langsung terlihat meyakinkan.
Di platform lokal seperti Sribulancer atau Projects.co.id, klien yang legit biasanya malas pindah. Mereka paham platform itu melindungi kedua belah pihak. Tapi scammer? Mereka punya alasan “logis”:
- Fee platform terlalu mahal. Katanya 10-20% itu bikin rugi. Padahal fee itu adalah asuransi.
- Proses di platform ribet. Padahal yang ribet itu justru verifikasi mereka sebagai scammer.
- Butuh komunikasi cepat. Padahal maksudnya: butuh kamu cepat-cepat transfer uang atau klik link phishing.

Red Flag di Platform Lokal Sebelum Diajak Pindah
Sebelum kamu sampe di Telegram, biasanya ada tanda-tanda di platform yang bisa lo cek. Jangan diabaikan.
Pertama, profile klien baru daftar tapi langsung posting job besar. Kayak “Butuh developer bikin marketplace, budget Rp 50 juta.” Nama perusahaan ga jelas, lokasi “Indonesia”, deskripsi job copas dari internet. Ini classic.
Kedua, review dari freelancer-nya generik. “Mantap, komunikasi lancar, recommended.” Semua review pakai template yang sama, grammar-nya juga sama. Kemungkinan besar itu review palsu dari akun dummy.
Ketiga, bahasa pesan templat. Mereka kirim pesan yang terlalu formal tapi ga spesifik. “Halo, kami tertarik dengan skill Anda. Silakan hubungi kami di Telegram @scammer123 untuk detail lebih lanjut.” Ga ada mention spesifik soal portfoliomu. Auto-delete.
Modus Operandi yang Paling Sering Muncul
Sekarang masuk ke modus yang paling sering dipake. Saya urutkan dari yang paling halus sampai paling tolol tapi masih ada yang kena.
Modus 1: Fake Payment Proof & Down Payment Trap
Scammer kirim screenshot transfer bank palsu. Kadang pakai app editan yang sangat meyakinkan. Terus bilang, “Sudah saya transfer 50%, cek rekeningmu ya.” Padahal belum masuk-masuk. Terus mereka minta kamu mulai kerja atau, lebih parah, minta kamu transfer “uang jaminan” dulu supaya mereka “yakin” kamu serius. Logika terbalik, tapi banyak yang tergoda.
Contoh nyata: Ada klien bilang transfer Rp 5 juta, kirim screenshot. Saya cek mutasi, ga ada. Alasan mereka: “Oh, jam bank beda, nanti sore masuk.” Terus minta saya kirim DP Rp 500rb untuk “activate project slot.” Gila.
Modus 2: Phishing via File atau Link
Mereka kirim file .exe, .zip, atau link Google Drive. Isinya malware atau fake login page platform. Tujuannya: curi password akun freelancemu. Begitu mereka dapet akses, mereka tarik dana atau scam freelancer lain pakai nama kamu.
Pernah ada kasus di grup freelancer: satu orang kena phishing, terus akunnya dipake untuk kirim pesan scam ke 50+ freelancer lain. Domino effect.

Modus 3: Test Task Berlebihan
Modus ini lebih halus. Mereka kasih “test task” yang butuh 2-3 hari kerja. Hasilnya? Dibuang atau dipake tanpa bayar. Terus mereka ghosting. Padahal test yang wajar itu maksimal 1-2 jam kerja.
Cara Verifikasi Klien Tanpa Harus Jadi Detektif
Verifikasi itu penting, tapi ga perlu sampe nyari data keluarga mereka. Cukup beberapa langkah ini.
Pertama, cek domain email. Klien bilang dari PT Maju Jaya, tapi emailnya dari gmail.com? Red flag. Minta email korporat. Terus cek MX record domainnya di mxtoolbox.com. Kalau ga ada record email, itu domain cuma di parkir.
Kedua, Google image search foto profil. Screenshot foto profil mereka, terus upload ke Google Images. Kalau muncul di website stock photo atau profil orang lain, you know the drill.
Ketiga, cek LinkedIn mutual. Kalau klien legit, biasanya ada koneksi mutual di LinkedIn. Minimal, profil LinkedIn mereka lengkap dengan rekomendasi dari karyawan lain. Kalau kosong melompong, waspada.
Keempat, minta video call singkat. Bukan untuk ngobrol lama, cuma 5 menit. “Hai, bisa quick call untuk konfirmasi detail project?” Scammer biasanya menghindar dengan alasan sibuk atau pakai VPN susah.
Protokol Aman: Kapan Boleh Pindah ke Telegram?
Bukan berarti Telegram itu iblis. Ada situasi aman untuk pindah, tapi dengan protokol ketat.
Pindah ke Telegram boleh kalau:
- Kontrak dan pembayaran sudah 100% clear di platform. Escrow sudah terisi.
- Tujuan pindah cuma untuk voice note atau screen share yang lebih praktis. Chat log penting tetap di platform.
- Klien sudah lo verifikasi lewat 4 langkah di atas dan lolos semua.
Aturan keras: Jangan pernah klik link atau download file di Telegram dari klien yang belum 100% terpercaya. Jangan pernah sebutkan data pribadi seperti password atau OTP.
| Fitur | Platform Lokal (Sribulancer, dll) | Telegram |
|---|---|---|
| Escrow | ✅ Ada, aman | ❌ Tidak ada |
| Dispute Resolution | ✅ Mediasi platform | ❌ Solve sendiri |
| Traceability | ✅ Chat log tersimpan | ❌ Bisa dihapus |
| Biaya | 10-20% (asuransi) | Gratis (tapi berisiko) |
| Kecepatan | Lebih lambat (proses) | Cepat (tapi rawan) |
Kena Scam? Ini Langkah Daruratnya
Okay, worst case scenario. Kamu sudah kena. Jangan panik. Lakukan ini dalam 24 jam pertama.
Langkah 1: Screenshot semuanya. Semua chat, profil, nomor rekening yang mereka kasih. Simpan di cloud. Telegram chat bisa dihapus, jadi screenshot itu bukti digital.
Langkah 2: Lapor platform freelance. Meskipun transaksi terjadi di Telegram, lapor tetap penting. Platform bisa ban klien itu. Saya pernah lapor, dan ternyata klien tersebut sudah masuk blacklist tapi pake akun baru.
Langkah 3: Lapor ke Cyber Crime Polri. Buka website cybercrime.go.id, ajukan laporan online. Butuh waktu, tapi ini penting untuk statistik dan potensi tuntutan. Sertakan semua bukti.
Langkah 4: Share di komunitas freelancer. Grup Facebook, Discord, atau Telegram komunitas freelancer lokal. Nama dan modus operandi mereka harus di-share. Ini mencegah korban berikutnya.
Warning: Jangan pernah merasa “malu” karena kena scam. Scammer itu profesional, mereka cari makan dengan modal manipulasi. Yang malu harusnya mereka, bukan kamu. Share pengalamanmu, itu bisa jadi tameng buat orang lain.
Kesimpulan: Platform itu Payungmu di Musim Hujan
Di dunia freelance lokal yang kadang liar, platform itu bukan cuma tempat cari kerja. Platform adalah payung. Payung yang melindungi kamu dari scam, dispute, dan klien nakal. Fee 10-20% itu bukan biaya, tuh adalah premi asuransi.
Telegram itu kayak jalan cepat tanpa lampu merah. Memang lebih cepat, tapi riskan kecelakaan. Pakai Telegram hanya untuk komunikasi ringan setelah semua aman di platform. Kalau ada klien yang insist pindah sebelum deal clear, itu bukan red flag, itu red banner besar.
Trust your gut. Kalau ada yang ga beres, ya memang ga beres. Better lose one project than lose your money and peace of mind. Stay safe out there.