Kalau ada yang bilang jadi freelancer itu bebas 100%, coba tanya dulu: platform yang kamu pake ambil berapa persen fee? Fastwork dan Sribulancer, dua raksasa freelance lokal ini, punya cara masing-masing buat ambil bagian dari keringat kita. Dan jujur, beda tipis tipis, tapi nyebelinnya bisa beda jauh.

Saya udah coba dua-duanya, dari yang proyek recehan 50rb sampe project gede jutaan. Di sini kita bahas duit murni—tanpa basa-basi motivasi—soal berapa sih sebenarnya potongan mereka dan gimana cara mainnya buat tetep bisa makan.

Fastwork: Si Raja Iklan yang Doi Nggak Malu-Malu Ambil Fee

Fastwork itu kayak mall yang ramai tapi parkirnya mahal. Platformnya user-friendly banget, client banyak, tapi ya itu… fee-nya bisa bikin ngilu. Sistem potongannya bertingkat, tergantung nilai proyek kamu.

Fee Fastwork: 20% untuk proyek di bawah Rp 10 juta, turun jadi 10% kalau di atas Rp 10 juta. Ditambah PPN 11% yang dibebankan ke freelancer (iya, kamu yang bayar). Jadi total potongan bisa 31% untuk project-project kecil. Bayar Rp 1 juta? Yang nyampe tangan kamu Rp 690rb. Sakit? Pasti.

Fastwork juga punya FastPay, sistem pembayaran instan. Tapi hati-hati, tarik duit cepat ada biaya tambahan 2.5%. Mau tunggu 3 hari kerja? Biaya normal. Jadi kalau kamu tipe yang butuh cash flow cepat, siap-siap keluar duit lagi.

Kelebihan Nyata Fastwork:

  • Traffic client gila-gilaan. Banyak job post setiap hari, dari desain sampe programming.
  • UI/UX buat client cakep. Mereka mudah nyari freelancer, jadi closing rate lumayan tinggi.
  • Fitur negosiasi jelas. Bisa revisi penawaran tanpa drama.
Baca:  Sribu Vs Sribulancer: Apa Bedanya Dan Mana Yang Lebih Menguntungkan Freelancer?

Kekurangan Realita:

  • Fee 31% itu beneran terasa di proyek kecil. Banyak freelancer akhirnya naikkan harga, tapi jadi kalah kompetitif.
  • Client low-budget banyak. Banyak yang nyari “bagus, cepat, murah”—tiga hal yang nggak mungkin.
  • Support lambat kalau dispute. Pernah dispute? Siap-siap email bolak-balik seminggu.

Freelancer Indonesia menatap layar laptop dengan ekspresi bingung

Sribulancer: Si “Kalem” yang Ternyata Juga Nekat Potongan

Sribulancer itu kayak pasar tradisional yang lebih tenang. Nggak se-ramai Fastwork, tapi clientnya cenderung lebih serius dan budgetnya lebih realistis. Fee-nya juga lebih “bersahabat” di atas kertas, tapi ada triknya.

Fee Sribulancer: Flat 10% dari nilai proyek, plus PPN 11% (total 21%). Tapi ada tier membership: Basic gratis, Premium (Rp 99rb/bulan) buat lebih banyak bid, dan Pro (Rp 299rb/bulan) buat prioritas.

Kalau kamu cuma pakai Basic, kamu dibatasi 10 bid per bulan. Mau lebih? Upgrade. Jadi biaya nggak cuma fee, tapi juga “uang pangkal” buka lapak.

Kelebihan Nyata Sribulancer:

  • Fee lebih rendah untuk semua tier proyek. 21% vs 31% itu beda besar.
  • Client quality lebih bagus. Banyak corporate client yang nyari talent lokal.
  • Dispute resolution lebih manusiawi. Pernah dispute, mereka beneran nelpon.
  • Portfolio showcase lebih mumpuni. Bisa upload case study lengkap.

Kekurangan Realita:

  • Traffic lebih sedikit. Bisa sepi hari-hari, apalagi kategori niche.
  • Membership fee bikin mikir. Kalau baru mulai, Rp 99rb/bulan itu lumayan.
  • UI agak jadul. Client kadang bingung cara hire.
  • Withdrawal fee ada juga. Transfer ke bank lokal kena Rp 5rb-15rb tergantung nominal.

Perbandingan Head-to-Head: Mana yang Lebih “Makan” Freelancernya?

Mari kita pecah angka biar jelas. Ini perhitungan untuk project Rp 5 juta dan Rp 15 juta.

Item Fastwork (Rp 5jt) Fastwork (Rp 15jt) Sribulancer (Rp 5jt) Sribulancer (Rp 15jt)
Nilai Proyek 5.000.000 15.000.000 5.000.000 15.000.000
Fee Platform 1.000.000 (20%) 1.500.000 (10%) 500.000 (10%) 1.500.000 (10%)
PPN 11% 550.000 550.000 550.000 550.000
Total Potongan 1.550.000 (31%) 2.050.000 (13,7%) 1.050.000 (21%) 2.050.000 (13,7%)
Diterima Freelancer 3.450.000 12.950.000 3.950.000 12.950.000
Biaya Withdrawal ±25.000 ±25.000 ±10.000 ±15.000
Baca:  Situs Crowdsourcing Ide Nama Bisnis: Review Squadhelp Vs Namestation

Terlihat kan? Untuk proyek kecil, Fastwork lebih “rakus”. Tapi di proyek besar, fee jadi seimbang. Triknya: kalau kamu di Fastwork, usahakan deal project di atas Rp 10 juta. Kalau nggak bisa, naikkan harga minimal 30% dari rate normal.

Realita Lapangan: Harga Jasa di Lapangan vs di Platform

Ini yang jarang dibahas. Harga di platform itu sudah terdistorsi oleh fee. Freelancer yang jago, pasti naikkan rate. Jadi client di platform sebenarnya bayar lebih mahal dibanding hire langsung.

Contoh: Desain logo di lapangan biasanya Rp 1,5-2 juta. Di Fastwork, banyak yang patok Rp 2,5-3 juta. Kenapa? Biar nyampe target duit bersih. Sribulancer sedikit lebih wajar, Rp 2-2,5 juta.

Client yang pinter kadang pake platform cuma buat cari talent, terus hubungi direct lewat LinkedIn. Ini risky (bisa dibanned), tapi banyak yang lakukan. Jadi platform jadi semacam “etalase bayar mahal”.

Tangan menulis di sticky notes dengan perhitungan fee dan target income

Tips Nyata Supaya Nggak “Diculik” Platform

Gak usah pusing, ini strategi yang masih work di 2024:

  1. Hitung dulu, post kemudian. Kalau rate kamu Rp 1 juta, tambah minimal 30% di Fastwork dan 25% di Sribulancer. Jangan pernah post rate bersih.
  2. Manfaatkan membership Sribulancer kalau udah punya porto kuat. 10 bid per bulan itu cukup kalau closing rate kamu 30%.
  3. Fastwork untuk volume, Sribulancer untuk value. Cari client kecil-kecil di Fastwork buat isi portofolio, tapi hunt big fish di Sribulancer.
  4. Jangan terima project di bawah Rp 500rb di Fastwork. Nggak worth it. Setelah potongan, bayar pulsa aja nggak cukup.
  5. Build relationship. Setelah project selesai dan client puas, minta rekomendasi direct. Banyak client yang nggak keberatan hire lagi lewat transfer bank.

Kesimpulan: Pilih Sesuai Selera (dan Kantong)

Fastwork = Mall ramai tapi parkir mahal. Sribulancer = Ruko strategis tapi sepi. Kalau kamu baru mulai dan butuh job cepat, Fastwork lebih baik meski fee sakit. Kalau udah expert dan punya porto, Sribulancer lebih nguntungin. Kalau mau aman dan nggak mau mikir fee, cari client direct—tapi siapin effort marketing 10x lipat.

Pokoknya, jangan jadi freelancer yang cuma ngeluh potongan. Jadilah freelancer yang charge lebih karena worth it. Platform cuma alat, bukan tujuan. Yang penting: kerjaan kelar, client happy, dan kamu tetep bisa makan enak. Sisanya? Biar platform senyam-senyum aja, mereka juga cari makan kok.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Freelance Translator Indonesia: Review Situs Proz Vs Translatorscafe

Sebagai penerjemah freelance, pilihannya cuma dua: cari klien sendiri atau daftar ke…

Situs Crowdsourcing Ide Nama Bisnis: Review Squadhelp Vs Namestation

Nama bisnis itu kayak first impression, salah pilih bisa jadi cuma jadi…

Linkedin Service Page Vs Upwork: Cara Dapat Klien Premium Tanpa Perantara

Fee 20% di Upwork bikin ngilu? Tenang, kamu nggak sendirian. Banyak freelancer…

Perbandingan Potongan Fee: Upwork, Fiverr, Fastwork, Dan Projects.Co.Id (Data Terbaru)

Fee platform itu kayak pacar: semakin tinggi, semakin sering bikin nangis di…