Dua platform ini kayak warung kopi yang nggak pernah masuk radar freelancer pemula. Guru.com udah berdiri sejak 1998 (ya, sebelum dot-com bubble pecah), sementara Truelancer muncul 2014 sebagai jawaban India terhadap dominasi platform Barat. Keduanya punya nama yang terdengar “legit”, tapi di dunia nyata? Sepi. Dan sepi di sini bukan selalu berarti damai.

Saya coba dua platform ini selama 18 bulan untuk project copywriting dan digital marketing. Hasilnya? Salah satunya nyaris bikin saya gigit jari karena fee absurd, satunya lagi ngasih project tapi kliennya… unik. Mari kita bedah.

Kenapa Dua Platform Ini “Sepi Pesaing”? (Dan Kenapa Ini Bisa Jadi Masalah)

Bayangin masuk ke mal yang sepi. Parkirannya luas, AC-nya dingin, tapi toko-tokonya sepi pembeli. Itu pengalaman di Guru.com dan Truelancer. Traffic-nya jauh di bawah Upwork atau Fiverr, yang artinya dua hal: kompetisi lebih sedikit, tapi peluang proyek juga langka.

Di Guru.com, saya pernah ngelamar 47 proposal selama 3 bulan. Dari situ, cuma 5 yang bales. 1 jadi project, dan itu project 200 dolar yang kliennya ghosting setelah milestone pertama. Fun times.

Truelancer? Sistemnya lebih “brutal”. Banyak project yang di-post dengan budget 10-50 dolar untuk pekerjaan yang butuh 2 minggu. Kliennya banyak dari India, Pakistan, dan UK (yang nyari talent Asia untuk rate murah).

Fee Structure: Di Mana Uangmu Hilang

Ini bagian paling penting. Jangan ngelirik cuma dari persentase di homepage. Ada banyak lubang hitam.

Guru.com: Membership + Fee + Bonus “Feature”

Platform ini punya sistem membership yang bikin pusing. Basic (gratis) = 9% fee per project. Terdengar wajar, kan? Tapi ada catch:

  • Maksimal 10 bid per bulan. Abis itu? Bayar 10 dolar untuk 20 bid lagi.
  • Project besar biasa private, cuma visible buat “Guru Verified” (bayar 50 dolar/bulan).
  • Withdrawal fee via PayPal: 3.5% + 0.30 dolar per transaksi.
  • Klien bisa “feature” proposal-mu… tapi kamu yang harus bayar 29 dolar untuk itu.

Saya pernah dapet project 1,500 dolar di Guru. Setelah dipotong fee 9%, withdrawal fee, dan chargeback protection (wajib!), bersihnya cuma 1,280 dolar. Itu 14.6% total fee. Nggak ada yang bilang ini di homepage.

Truelancer: Lebih Sederhana, Lebih “Brutal”

Truelancer lebih transparan: 10% flat fee untuk semua tier. Tapi:

  • Withdrawal fee: 5 dolar flat untuk PayPal, apapun jumlahnya. Project 20 dolar? Bayar 5 dolar. Project 500 dolar? Tetap 5 dolar.
  • Project kecil (di bawah 50 dolar) nggak bisa pake milestone. All-in di awal. Resiko tinggi.
  • Klien bisa cancel project kapan aja tanpa penalty. Sistem dispute? Lemah.
Baca:  Sribu Vs Sribulancer: Apa Bedanya Dan Mana Yang Lebih Menguntungkan Freelancer?

Secara matematika, Truelancer lebih murah untuk project besar. Tapi realita? 90% project di sini di bawah 100 dolar.

Kualitas Klien: Dari Startup UK Sampai “Bapak Ustad” Nyuruh Ngehantu

Ini pembeda utama. Guru.com punya klien yang lebih “barat”: US, Canada, UK, Australia. Banyak small-to-medium business yang nyari long-term freelancer. Sayangnya, banyak juga yang clueless soal rate standar.

Saya pernah ditawarin project “full-time social media manager” dengan rate 400 dolar/bulan. Pas saya bilang rate standar minimal 1,200 dolar, kliennya bales, “But we saw profiles from Philippines offering $300.” Yea, good luck with that.

Truelancer? Kliennya lebih variasi. Ada digital agency UK yang nyari white-label service (ini bagus, rate standar), tapi ada juga klien individual yang nawarin “exposure” sebagai bayaran. Salah satu project paling absurd: nulis 30 artikel review produk Amazon sepanjang 1,000 kata per artikel. Budget? 25 dolar. Total.

Tipe Proyek dan Skill yang Laku

Guru.com masih kuat di:

  • Software development (legacy systems, PHP, .NET)
  • Business consulting dan admin support
  • Writing untuk niche teknis dan whitepaper

Truelancer? Tempatnya low-to-mid budget project:

  • Data entry (70% dari total project)
  • Logo dan graphic design (banyak contest)
  • Content writing (tapi rate rata-rata 0.01-0.02 dolar per kata)
  • Virtual assistant (rate 2-5 dolar/jam)

Kalo kamu senior developer atau consultant rate tinggi, Guru.com masih bisa jadi ladang. Tapi kalo kamu writer atau designer? Truelancer bakal jadi tempat penyiksaan mental.

UX dan Workflow: Dari Jaman Purba Sampai “Bisa Lah”

Dashboard Guru.com kayak website tahun 2010 yang nggak pernah di-redesign. Lambat, penuh notifikasi spam, dan messaging system-nya buggy. Pernah chat sama klien, pesan saya nggak kekirim 8 jam. Klien marah-marah, project cancel.

Baca:  Linkedin Service Page Vs Upwork: Cara Dapat Klien Premium Tanpa Perantara

Truelancer lebih modern. Mobile app-nya responsif, notifikasi real-time, tapi search function-nya payah. Filter “budget min” nggak berfungsi. Sering muncul project 5 dolar pas filter di-set 100+ dolar.

Yang bikin gemas: keduanya nggak punya escrow system sebaik Upwork. Guru punya SafePay, tapi klien sering nggak mau pake (ada fee tambahan). Truelancer punya “Milestone Payment” tapi klien bisa cancel tanpa alasan.

Verdict: Kapan Harus Pakai Mana?

Ok, ini rekomendasi berdasarkan 18 bulan nyemplung di dua platform ini:

Kriteria Guru.com Truelancer
Rate standar $25-80/jam (US clients) $5-25/jam (mostly Asia)
Fee total (rata-rata) 12-15% (termasuk withdrawal) 10-12% (termasuk withdrawal)
Project size Medium to large ($500-$5000) Small ($20-$300)
Kualitas klien Western SMEs, mixed quality Asian agencies, budget-conscious
Best for Developers, consultants, tech writers Beginners, data entry, basic design
Time to first project 2-4 bulan (lama) 2-4 minggu (cepat)

Pilih Guru.com jika:

  • Kamu punya portofolio kuat dan rate standar $50+/jam
  • Punya sabar buar nunggu project yang worth it
  • Siap bayar membership buka akses project premium
  • Skill-mu di tech, consulting, atau niche B2B

Pilih Truelancer jika:

  • Baru mulai dan butuh project cepat buat portofolio
  • Rate 5-15 dolar/jam masih acceptable buatmu
  • Skill-mu general: data entry, basic VA, simple design
  • Nggak mau ribet dengan membership tier

Tips Survival di Platform “Sepi”

Kalo tetap mau coba, ini ritual wajib:

  1. Never work without milestone atau escrow. Nggak peduli seberapa meyakinkan kliennya. Pernah saya di-“trust fund” project 800 dolar, klien ghosting setelah 50% kerjaan. Platform nggak bisa bantu apa-apa.
  2. Over-communicate. Kirim update tiap hari. Klien di platform kecil lebih paranoid karena udah pernah ketipu.
  3. Build relationship di luar platform. LinkedIn, email, WhatsApp (kalau kliennya kooperatif). Ini bukan buat bypass fee, tapi buat jadi long-term client. Platform cuma jadi koneksi pertama.
  4. Track semua transaksi. Screenshot chat, save email, export invoice. Dispute process di dua platform ini lamban dan cenderung pro-klien.

Kesimpulan akhir: Guru.com dan Truelancer bukan tempat buat cari duit besar. Mereka tempat buat cari experience, portofolio, atau klien jangka panjang yang bisa di-bawa keluar. Jangan jadi tergantung. Pakai mereka sebagai “side hustle platform”, bukan utama.

Jadi, masih mau coba? Atau mending fokus di Upwork sambil sesekali buka aja dua ini buat nyari client long-term? Pilihan di tanganmu. Yang penting, jangan sampai fee dan effort-nya nggak worth it sama hasil yang didapet.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Upwork Vs Fiverr: Mana Yang Lebih Cepat Menghasilkan Dollar Untuk Pemula?

Lo daftar platform freelance, profil diisi lengkap, skill di-list semua, terus… diam.…

Freelance Translator Indonesia: Review Situs Proz Vs Translatorscafe

Sebagai penerjemah freelance, pilihannya cuma dua: cari klien sendiri atau daftar ke…

Situs Crowdsourcing Ide Nama Bisnis: Review Squadhelp Vs Namestation

Nama bisnis itu kayak first impression, salah pilih bisa jadi cuma jadi…

Perbandingan Potongan Fee: Upwork, Fiverr, Fastwork, Dan Projects.Co.Id (Data Terbaru)

Fee platform itu kayak pacar: semakin tinggi, semakin sering bikin nangis di…