Lo pernah ngerasain kerjaan udah 80% selesai, tapi client tiba-tiba menghilang? Atau lebih parahnya, client tiba-tiba claim hasil kerja lo “ngga sesuai brief” padahal brief-nya aja cuma 2 kalimat di WhatsApp? Nah, di sinilah lo bakal ketemu sama dua monster tersembunyi di Projects.co.id: sistem arbitrase yang bikin mumet dan fee yang… yah, nggak seenak itu.
Sebagai orang yang udah bolak-balik beberapa platform lokal dan internasional, gue bisa bilang: Projects.co.id itu punya pasar lokal yang emang legit. Tapi ada beberapa hal yang lo nggak bakal baca di halaman depan mereka. Hal-hal yang baru keluar pas lo udah terlanjut tenggelam di dalam project. Mari kita bahas satu per satu, biar lo bisa masuk dengan mata terbuka lebar.

Sistem Arbitrase: Teori vs Realita di Lapangan
Di halaman bantuan Projects.co.id, sistem arbitrase mereka terdengar cukup adil: “Tim kami akan meninjau bukti dari kedua belah pihak dan mengambil keputusan yang fair.” Kedengarannya profesional, kan? Tapi realitanya… lebih kompleks.
Proses yang Memakan Waktu dan Tenaga
Pertama, lo harus ngerti: dispute di Projects.co.id itu dimulai dengan notifikasi ke client. Client punya 3 hari kerja untuk merespon. Kalo client nggak respon? Bukan otomatis lo menang. Case-nya malah bisa jadi stuck di “menunggu respon” selama berminggu-minggu. Gue pernah ada kasus logo design, client nggak pernah buka platform lagi setelah dispute dibuka. Case-nya ditutup setelah 30 hari tanpa keputusan, dan duit tetep di-hold.
Kedua, tim arbitrase butuh bukti konkret. Ini yang bikin banyak freelancer Indonesia kena batunya. Kalo lo biasanya komunikasi di WhatsApp atau email, lo harus screenshot, compile, kasih timestamp. Tapi kalo client komunikasi cuma via chat platform Projects.co.id? Lo masih harus export PDF dari chat history yang… ya, formatnya nggak user-friendly banget. Gue pernah habis 2 jam cuma buat nge-print chat log 50 halaman.
Kasus Nyata: Web Developer vs Client “Sudah Beda”
Bayangin lo developer, deal project website company profile Rp 8 juta. Lo kerjain, revise 3x, semua via chat platform. Pas mau final payment, client bilang: “Ini kok nggak ada fitur e-commerce? Kan aku mau jualan online.” Padahal di brief cuma: “Buatkan website company profile, 5 halaman, kontak bisa di-edit.”
Lo buka dispute, sertakan semua chat. Tim arbitrase baca, terus putuskan: “Kedua belah pihak kurang jelas dalam mendefinisikan scope, maka dana akan dibagi 50:50.” Lo dapet Rp 4 juta, tapi kerjaan lo udah 95% selesai dan client bisa pake semua source code. Win-win? Nggak. Loss-loss. Dan itu belum termasuk fee arbitrase Rp 50.000 yang dipotong dari dana project.
Biaya Tersembunyi di Balik “Gratis” Arbitrase
Ya, lo baca bener. Projects.co.id bilang arbitrase itu gratis. Tapi cek lagi ketentuan: kalo dispute-nya berhasil dan dana cair, ada potongan “administrasi penyelesaian sengketa” sebesar 0.5% dari nilai project atau maksimal Rp 50.000. Kecil? Kalo lo freelancer pemula yang project-nya Rp 500.000, itu 10% dari margin lo.
Fee Structure: Kalkulasi yang Nggak Bikin Happy
Fee di Projects.co.id itu layer upon layer. Lo harus hitung semua bukan cuma yang keliatan di landing page. Mari kita breakdown biaya nyata buat project Rp 5 juta:
- Platform Fee: 10% (Rp 500.000) – Ini langsung dipotong dari dana client.
- Payment Gateway (Kredit Card): 2.9% (Rp 145.000) – Kalo client bayar pake kartu kredit, ini ditambahin ke tagihan client, tapi nggak semua client mau ngeluarin extra.
- Withdrawal Fee ke Bank Lokal: Rp 5.000 – Rp 25.000 tergantung metode. Kalo lo pilih transfer instan, bisa sampe Rp 25.000.
- Fee Arbitrase (kalo terjadi): Rp 50.000
Total potongan bisa 12-15% dari nilai project. Bandingin sama Upwork yang 10% flat (tapi fee withdrawal bisa lebih mahal) atau Sribulancer yang 5% (tapi traffic lebih sedikit).
Perhitungan sederhana: Kalo lo ngasih penawaran Rp 5 juta di Projects.co.id, lo cuma bawa pulang bersih sekitar Rp 4,3 juta. Itu pun kalo semua lancar dan nggak ada dispute. Jadi, factor in semua ini waktu nentuin rate.
Perbedaan Fee Berdasarkan Tipe Klien
Ini yang sering gue lihat: klien corporate yang pake PO (Purchase Order) biasanya bayar via bank transfer manual. Fee platform tetep 10%, tapi lo nggak kena payment gateway fee. Tapi prosesnya lebih lama, bisa 7-14 hari kerja cuma buat verifikasi pembayaran. Kalo klien individual yang biasanya pake kredit card? Bayar cepat, tapi client-nya sering ngerasa “kena mahal” dan jadi lebih rewel.
Perbandingan: Projects.co.id vs Platform Lain
| Kriteria | Projects.co.id | Upwork | Sribulancer |
|---|---|---|---|
| Platform Fee | 10% | 10% (5% kalo >$10k) | 5% |
| Arbitration Fee | Rp 50.000 maks (0.5%) | Gratis | Rp 25.000 |
| Response Time Dispute | 3 hari (client) | 5 hari (both parties) | 7 hari (client) |
| Withdrawal Fee (Bank Indo) | Rp 5.000 – 25.000 | $0.99 (PayPal) + fee PayPal | Rp 10.000 |
Data di atas cuma biaya langsung. Belum termasuk “cost of frustration” yang nggak bisa dihitung. Di Upwork, proses arbitrase lebih transparan dan lo bisa live chat sama mediator. Di Projects.co.id, semua via tiket sistem dan email. Lambat dan bikin deg-degan.
Tips Praktis: Cara Bertahan Hidup di Projects.co.id
Setelah berapa tahun jadi “survivor”, ini beberapa ritual wajib gue sebelum ambil project di sana:
- Scope kerjaan musti di brief dalam 1 halaman PDF. Jangan cuma chat. Lo upload di tab “Dokumen Project” biar jadi official record.
- Minta 50% upfront via milestone. Projects.co.id punya fitur milestone payment. Pake itu. Jangan pernah mulai kerja sebelum milestone pertama dibayar, meski client-nya “temenan”.
- Semua komunikasi penting, copy-paste ke chat platform. Kalo diskusi di WA atau telpon, langsung ketik ringkasan di chat Projects.co.id: “Jadi kesepakatan kita tadi via telpon: …” biar ada trail.
- Setting rate 15% lebih tinggi dari target lo buat nutupin fee dan potensi dispute loss.
- Khusus project >Rp 10 juta, pertimbangkan pake escrow bank atau pisah jadi beberapa milestone lebih kecil. Lebih aman, meski lebih ribet.

Kapan Projects.co.id Masih Worth It?
Meski semua kelemahan ini, gue masih ada di platform ini. Kenapa? Karena traffic lokalnya juara. Kalo lo niche di jasa terjemahan, voice over bahasa Indonesia, atau desain yang butuh “feel lokal”, client di sini lebih banyak dan lebih serius daripada platform internasional.
Trick-nya: lo harus jadi price maker, bukan price taker. Jangan ikut-ikutan nawar murah. Fokus ke client yang udah punya review bagus dan budget realistis. Dan yang paling penting: treat it like a numbers game. Kalo lo bisa close 1 dari 5 proposal, dan 1 dari 10 project dispute, itu masih profit asal lo factor in semua risiko di rate lo.
Kesimpulan: Jangan Dikawal, Tapi Jangan Ditinggal
Projects.co.id itu kayak mobil bekas yang masih bagus mesinnya, tapi AC-nya rusak dan pintunya nyangkut. Bisa lo pake buat perjalanan jauh, tapi lo harus siap keringetan dan mungkin harus keluarin duit tambahan di tengah jalan.
Sistem arbitrase mereka butuh overhaul total. Fee structure-nya nggak paling murah, tapi nggak paling mahal juga. Yang jelas, ini bukan platform buat yang baru mulai freelancing dan nggak punya sistem proteksi diri sendiri. Tapi buat yang udah berpengalaman dan punya SOP ketat, masih bisa jadi ladang emas.
Jadi, lo mau tetep pake? Boleh. Tapi sekarang lo udah ngerti medan perangnya. Good luck, semoga dispute-nya sedikit dan client-nya gampang diurus!