Fee 20% di Upwork bikin ngilu? Tenang, kamu nggak sendirian. Banyak freelancer yang capek jadi “tahanan” platform, terus-terusan dikejar-kejar algoritma sementara klien besar malah lewat. Nah, LinkedIn baru saja meluncurkan Service Page—fitur yang katanya bisa bikin kamu langsung digaet klien premium tanpa perlu platform. Tapi, apakah hype ini beneran worth it? Atau cuma jadi gimmick baru?
Sebagai seseorang yang udah bolak-balik antara Upwork, Fiverr, dan sekarang nyemplung ke LinkedIn, izinkan aku spill the tea. Nggak ada yang sempurna, tapi ada strategi yang bisa bikin kamu dapet klien berkualitas dengan lebih lega di hati (dan kantong).
Kenapa Klien “Premium” Itu Beda dari Klien “Budget”
Sebelum kita bedah platformnya, penting banget paham dulu: klien premium bukan sekadar yang punya duit banyak. Mereka yang punya brief jelas, respect waktu, dan bayar tepat waktu. Beda sama klien “budget” yang nanya revisi 15x untuk logo seharga $50.
Di Upwork, klien premium biasanya punga verified payment dan high spend badge. Tapi masalahnya, mereka seringkali dikerubuti 50+ proposal dalam hitungan jam. Sementara di LinkedIn, klien premium itu biasanya decision-maker yang langsung—CMO, Head of Product, atau founder yang bosan cari-cari di platform freelance.
Upwork: Realita yang Nggak Seindah Portfolio-mu
Upwork itu kayak mall raksasa. Semua ada, tapi kamu harus bayar sewa mahal dan ikut aturan main mereka. Fee 20% untuk billing pertama $500 itu cuma puncak gunung es. Ada Connects yang harus dibeli, payment processing fee, dan potongan pasar yang bikin kamu mikir dua kali sebelum ngasih rate “wajar”.

Algoritma Upwork juga punya mood swing. Hari ini profil kamu di page one, besok bisa tenggelam di page 15 karena satu client nggak kasih feedback. Dan jangan lupa: Upwork bisa suspend akun kapan saja tanpa warning. Pernah temenku yang Top Rated Plus tiba-tiba di-suspend karena “irregular activity”. Butuh 3 minggu bukanya, proyek ilang semua.
LinkedIn Service Page: Apa Itu dan Kenapa Sekarang?
LinkedIn Service Page itu fitur di profil LinkedIn kamu yang bikin kamu bisa showcase jasa spesifik kayak “Website Development for SaaS” atau “Brand Strategy for Fintech”. Klien bisa langsung “request a quote” tanpa harus DM dulu. Think of it as landing page mini di dalam LinkedIn.
Yang bikin menarik: LinkedIn nggak ambil fee dari transaksi. Mereka cuma provide tool. Kamu dan klien deal sendiri, bayar lewat transfer, PayPal, atau carrier pigeon kalau mau. Ini kebalikan banget dari model Upwork yang micromanage semuanya.
Tapi ada harga yang harus dibayar: visibility. Di Upwork, klien udah pasti datang untuk cari freelancer. Di LinkedIn, kamu harus aktif nge-push content, network, dan build authority dulu. Nggak ada yang instant.
Head-to-Head: Mana yang Lebih Worth It?
Mari kita bedah satu per satu berdasarkan kriteria yang bener-bener nyata di lapangan.
| Kriteria | Upwork | LinkedIn Service Page |
|---|---|---|
| Fee | 10-20% + processing fee | 0% (deal sendiri) |
| Client Quality | Mix; premium ada tapi banyak lowballer | Lebih tinggi; langsung dari decision-maker |
| Volume Proyek | Tinggi; ribuan job post per hari | Rendah; tergantung network & content |
| Trust Factor | Escrow, verified payment | Tergantung reputasi personal brand |
| Time to First Client | 1-8 minggu (dengan proposal) | 2-6 bulan (dengan content & networking) |
| Control | Low; aturan platform strict | Full control; kamu yang atur |
Real Talk: Mana yang Cocok untuk Kamu?
Kalau kamu butuh duit sekarang dan nggak masalah potongan, Upwork masih rajanya. Tapi kalau kamu punya tabungan dan fokus ke long-term relationship, LinkedIn Service Page itu investasi yang lebih gila return-nya.
Strategi Dapat Klien Premium di LinkedIn Service Page
Setup Service Page doang nggak cukup. Ini bukan “build it and they will come”. Kamu harus jadi magnet yang tarik klien. Begini cara yang udah aku test sendiri:
1. Niching Down sampai Kepergok
Jangan jadi “Graphic Designer”. Jadi “Presentation Designer for Series-B Startups”. Semakin spesifik, semakin tinggi rate-nya. Klien premium cari spesialis, bukan generalist. Di Service Page, pakai keyword yang spesifik di title dan deskripsi.
2. Content is King, But Context is God
Post 3-5 kali seminggu tentang problem yang dihadapi target klienmu. Bukan portfolio melulu. Contoh: “Kenapa 90% pitch deck investor gagal di slide 5?”. Di akhir post, soft mention “btw, I help founders fix this”. Ini bukan jualan, ini kasih value dulu.

3. Leverage Existing Network
Service Page nggak akan keliatan sama sekali kalau kamu punya 200 connections doang. Minimal 1000+ connections yang relevan. Caranya? DM 10 orang per hari dengan pesan personal. Bukan spam. Baca dulu post mereka, lalu DM: “Hey, love your insight on [topic]. I’m building [your service] for [target]. Open for chat?”. 30% bakal accept.
4. Testimonial Overload
Di Upwork, testimonial terkumpul otomatis. Di LinkedIn, kamu harus proaktif. Setiap selesai proyek (meskipun di luar LinkedIn), minta client endorsement di profil. Kalau bisa, minta mereka post recommendation. Social proof di LinkedIn lebih powerful karena terlihat sama sekali nggak “terbayar”.
Strategi Bertahan di Upwork Sambil Bangun LinkedIn
Nggak ada yang bilang kamu harus pilih satu. Justru hybrid approach itu paling aman. Di Upwork, gunakan sebagai cash flow stabil sambil LinkedIn kamu bangun.
Upwork sebagai Lead Generator
Setiap selesai proyek di Upwork, ajak klien connect di LinkedIn. Biasanya mereka accept. Lalu, kamu bisa post update proyek mereka (dengan izin) di LinkedIn. Tag mereka. Ini bikin kamu keliatan trusted. Dari 10 klien Upwork, biasanya 2-3 bakal jadi repeat client di luar platform.
Rate Psychology di Upwork
Di Upwork, jangan takut set rate tinggi. Klien premium malah filtering freelancer berdasarkan rate. $80/hour itu lebih menarik dari $25/hour untuk corporate client. Tapi ingat, portfoliomu harus sebanding. Rate tinggi + portfolio tipis = crickets.
Connects Allocation yang Cerdas
Jangan buang connects di job post yang udah 50+ proposal. Filter: less than 5 proposals, verified payment, high spend. Ini biasanya job fresh dari klien premium yang nggak mau ribet. Aku pernah dapet proyek $5000 hanya dengan 4 connects karena cepat banget apply.
The Hybrid Playbook: Best of Both Worlds
Strategi paling ampuh yang aku pakai sekarang: LinkedIn for inbound, Upwork for outbound. Ini detailnya:
- Bangun presence di LinkedIn dengan content niching (2-3 post/minggu)
- Setup Service Page dengan rate premium (20-30% lebih tinggi dari Upwork)
- Di Upwork, bid on smaller projects ($500-$1000) sebagai “entry point”
- Setiap klien Upwork, migrasi ke LinkedIn untuk repeat business
- Invoice semua repeat client via LinkedIn (bisa pakai tools seperti Stripe atau PayPal)
Hasilnya? 70% income-ku sekarang dari klien yang awalnya kenal di LinkedIn (inbound), dan 30% dari Upwork yang udah jadi long-term client. Fee yang tersisa cuma processing fee PayPal (3%) versus potongan Upwork 10-20%.
Warning: Jangan ajak klien Upwork komunikasi di luar platform sebelum 2 tahun project selesai. Ini bisa kena TOS dan di-suspend. Tunggu cooling period, atau ajak connect di LinkedIn secara natural tanpa direct solicitation.
Kesimpulan: Mana yang “Lebih Baik”?
Jawabannya tergantung di mana kamu di journey freelance-mu:
- Freelance baru (0-6 bulan): Upwork lebih masuk akal. Butuh portofolio cepat dan cash flow. LinkedIn bisa dipelajari sambil jalan.
- Mid-level (6-24 bulan): Hybrid. Upwork untuk stabil, LinkedIn untuk scale rate.
- Expert (2+ tahun): LinkedIn all the way. Kamu udah punya authority, tinggal monetize.
Yang pasti, jangan jadi tahanan satu platform. Freelance itu soal kontrol. Kalau semua income dari satu platform yang punya aturan main sendiri, kamu bukan freelancer—kamu employee tanpa benefit.
Mulai sekarang, setup Service Page LinkedIn-mu. Nggak perlu sempurna. Isi dulu, launch, lalu improve sambil jalan. Sementara itu, optimize Upwork profile-mu untuk convert klien jadi long-term relationship. Dua-duanya bisa jadi mesin klien premium kalau kamu paham cara mainnya.
Ingat: klien premium cari spesialis yang terpercaya, bukan platform yang paling keren. Platform cuma alat. Reputasi dan network-mu yang jadi kunci.