Gue masih inget jelas, 2016, ngabisin 2 jam nulis proposal di Freelancer.com cuma buat dapet proyek desain logo $15. Eh, kliennya ilang begitu kerjaan kelar. Itu hari gue mikir: “Apa gue salah platform?” Kalo lu pernah ngerasain hal serupa—bidding sampe abis token, klien ghosting, atau fee yang bikin peras duit—gue feel you. Gue pindah ke Upwork tahun 2018, dan ini cerita lengkapnya kenapa gue ga pernah ngelirik balik.

Awal Mula: Saat Gue Masih “Muda” di Freelancer.com

Pertama kali daftar, gue kaget. Banyak banget proyek, dari desain flyer sampe coding Python. Sistemnya kayak e-commerce: lu beli membership, dapet “bids” terbatas, terus berburu job. Gue waktu itu pilih paket Basic sekitar $5/bulan. Harapan gede, bayangin aja bisa landing proyek US$500 dari kantor rumah.

Tiga bulan pertama lancar. Dapet klien Australia buat ngerjain website portofolio, bayar US$200. Gue seneng. Tapi lama-lama, ada sesuatu yang off. Banyak klien baru daftar, posting job, terus hilang. Atau yang lebih parah: nawarin proyek tapi budgetnya ngawur.

Sistem Bidding: Kasino Berbayar

Ini yang paling gue benci. Di Freelancer.com, lu dibatesi jumlah proposal per bulan kalo pake akun gratis. Kalo abis? Ya bayar lagi. Gue pernah beli paket Premium US$20 cuma buar nambah 100 bids. Hasilnya? Cuma dapet 2 balasan, dan itu cuma “Thanks for bidding”.

Terus ada fitur “Highlight My Bid”—lu bisa bayar ekstra US$2-5 buat warna bid lu beda. Gue pernah coba sekali. Bid gue jadi ijo terang, cakep. Tetap aja ga dilirik. Rasanya kayak beli lotre: modal banyak, menangnya ga pasti.

Kalo lu desainer, pasti tau fitur Contests. Klien posting brief, puluhan desainer submit karya, cuma satu yang menang. Gue ikut 7 kontes logo. Total waktu habis: sekitar 14 jam. Hasil? Nihil. Tiga kontes di-cancel klien tanpa pemenang. Dua kontes pemenangnya ternyata akun klien itu sendiri—gue cek, profile barusan dibuat. Scam level dewa.

Baca:  Apakah Sribulancer Aman? Review Mekanisme Safepay Untuk Klien Dan Pekerja

Angka-angka Pahit yang Jarang Dibahas

Mari kita hitung. Proyek kecil di Freelancer.com kena fee 10% atau US$5 minimum, mana yang lebih tinggi. Artinya kalo lu kerjain proyek US$25, fee-nya US$5 (bukan US$2.5). Belum lagi payment processing fee 2.3-3%. Total bisa 20% lebih.

Terus ada Membership Fee:

  • Basic: US$4.95/bulan (10 bids)
  • Plus: US$9.95/bulan (50 bids)
  • Professional: US$29.95/bulan (100 bids)

Gue pernah ambil Professional sebulan. Total keluar US$30. Dapet proyek US$150. Fee proyek US$15. Payment fee US$4.5. Total pendapatan bersih: US$100.5. Modal waktu: 10 jam. Hourly rate: US$10/hour. Padahal gue developer Python.

Titik Jenuh: Proyek yang Jadi “Pembunuh”

Februari 2018, gue landing proyek migrasi database US$500 dari klien UK. Kerjaan 2 minggu. Gue kirim milestone pertama, diterima. Kirim milestone kedua, klien bilang “not what I expected” tapi ga kasih revisi spesifik. Gue tanya berkali-kali, diabaikan.

Gue dispute ke Freelancer.com. Kirim screenshot, code commit, email thread. Hasil? Dispute di-resolve in favor of the employer. Alasannya: “Insufficient evidence of completion”. Padahal milestone pertama aja udah di-approve. Gue cuma dapet US$150. Sisanya? Hangus. Fee tetep kena full. Gue marah, tapi ya udah. Itu hari gue mutusin: Quit.

Freelancer.com itu kayak pasar malam: banyak barang murah, ramai, tapi kualitas ga terjamin. Kalo lu mau jualan di sana, siap-siap ditawar sampe modal aja ga balik.

Migrasi ke Upwork: Verifikasi KYC yang Ketat

Pindah ke Upwork ga semudah klik tombol. Gue daftar, kirim portofolio, terus diminta video call verifikasi. Gue kaget. Mesti tunjukin KTP, paspor, terus jawab pertanyaan random. Tapi gue appreciate: ini artinya mereka filter kualitas freelancer.

Profile gue butuh 3 hari untuk di-approve. Pas aktif, gue lihat job feed-nya beda. Budget lebih realistis. Klien punya history hire yang jelas. Rating mereka visible. Gue langsung apply ke proyek US$800—ngga pake bidding token. Ternyata di Upwork namanya Connects, dan tiap bulan dapat gratis 10 (waktu itu).

Fee Upwork: Lebih “Fair” (Meski Masih Sakit)

Fee Upwork 20% untuk pendapatan per klien di bawah US$500. Turun jadi 10% kalau total US$500-10.000. Di atas itu, 5%. Sakit? Iya. Tapi transparan. Gue bisa kalkulasi dari awal.

Baca:  Review Toptal Indonesia: Benarkah Hanya Untuk Freelancer Top 3%?

Contoh real: Proyek US$800 (pertama kali klien). Fee 20% = US$160. Payment processing 3% = US$24. Total fee US$184. Pendapatan bersih US$616. Hourly rate gue: US$35/hour (18 jam kerja). Beda jauh kan?

Connects? Sekarang sistemnya berubah. Dulu gratis 10/bulan. Sekarang harus beli: US$0.15 per Connect. Tapi kalo lu dapet interview, Connects lu balik. Lebih masuk akal.

Kualitas Klien: Langit dan Bumi

Di Freelancer.com, gue pernah ditawarin “Build me a Facebook clone for $200”. Serius. Di Upwork, budget serupa biasanya untuk fitur spesifik, bukan whole platform. Klien juga lebih responsive. Mereka biasanya punya verified payment method—ga bisa kabur seenaknya.

Retention rate gue di Upwork: 60% klien balik hire lagi. Di Freelancer.com? 0%. Semua one-off project, dan banyak yang scam.

Perbandingan Langsung: Freelancer.com vs Upwork

Fitur Freelancer.com Upwork
Entry Fee Membership $4.95-$59.95/bulan Gratis, bayar Connects $0.15
Service Fee 10% atau $5 minimum + 2.3-3% 20% -> 10% -> 5% (skala)
Verifikasi Email doang Video call + ID
Kualitas Klien Banyak lowballer & scam Lebih profesional & verified
Dispute Resolution Pro-employer, evidence kurang dianggap Mediasi lebih adil, milestone aman
Retention Rendah, one-off Tinggi, repeat hire common

Upwork Juga Ga Sempurna, Kok

Jangan sampe lu kira Upwork surga. Ada Job Success Score yang bikin stres. Turun 1% aja bisa bikin profile lu ga muncul di search. Algoritma feed-nya misterius. Kadang klien lama hire lu, rating 5 bintang, tapi JSS tetep turun—ga jelas kenapa.

Connects juga makin mahal. Sekarang proyek butuh 6-16 Connects. Kalo lu apply 10 job, bisa habis US$20 cuma buat chance. Tapi ya itu tadi: chance-nya lebih tinggi daripada Freelancer.com.

Suspension juga sering terjadi. Temen gue pernah di-suspend karena “irregular activity” padahal cuma login dari warnet. Butuh 5 hari buat appeal. Risky.

Jadi, Platform Mana yang Worth It?

Freelancer.com masih bisa jalan kalo lu:

  • Freelancer pemula yang mau coba-coba (tanpa harus verifikasi ribet)
  • Pengen kerjain banyak proyek kecil & cepat (bukan long-term)
  • Ga masalah sama fee tinggi asal dapet job

Tapi kalo lu:

  • Udah punya skill dan portofolid solid
  • Mau klien serius dengan budget decent
  • Prefer long-term relationship
  • Rela invest waktu di verifikasi

Upwork is the way.

Intinya: pindah ke Upwork bukan jaminan sukses. Tapi di Freelancer.com, gue merasa kayak ikan di kolam kering. Di Upwork, gue jadi ikan di kolam yang masih ada air—meski kadang ada hiu.

Gue ga nyesel pindah. Pendapatan gue naik 3x dalam setahun pertama di Upwork. Tapi gue juga ga bakal bilang Freelancer.com sampah absolut. Semua tergantung stage karier lu. Yang penting, paham dulu realitanya sebelum ngeluarin waktu (dan duit) buat platform yang mungkin cuma jadi cash grab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Peopleperhour Review: Alternatif Upwork Atau Sarang Scam? (Investigasi)

PeoplePerHour (PPH) sering disebut-sebut sebagai “Upwork versi Inggris” dengan promosi fee lebih…

Review Projects.Co.Id 2025: Masih Relevan Atau Kalah Saing Dengan Platform Luar?

Dilema klasik freelancer Indonesia: nyari job di platform lokal yang familiar, atau…

Flexjobs Review Indonesia: Apakah Layak Bayar Membership Untuk Cari Kerja Remote?

Bayar untuk cari kerja? Kedengarannya aneh, kayak harus ngasih uang dulu baru…

Apakah Sribulancer Aman? Review Mekanisme Safepay Untuk Klien Dan Pekerja

Pernah takut kerjaan udah kelar tapi klien tiba-tiba hilang? Atau sebagai klien,…