Lu lagi cari kerjaan remote di Glints dan bingung milih antara project based sama full-time remote? Gue paham. Dilema ini kayak milih antara makan siang cepat saji yang instan atau masak sendiri yang lebih ribet tapi lebih ngisi. Glints itu beda dari Upwork atau Fiverr, dan kalau lu nggak paham medannya, bisa-bisa nyangkut di proyek yang nggak sesuai ekspektasi. Yuk, gue bongkar realitanya dari sudut pandang freelancer yang udah nyoba dua-duanya.

Glints Itu Tempat Kerja, Bukan Warung Kopi

Kalau lu bayangin Glints kayak mall online buat cari kerja, ya nggak salah sih. Tapi yang perlu lu pahami: Glints itu dibangun buat pasar Asia Tenggara, dengan fokus utama tetap full-time employment. Sekitar 70-80% lowongan di sana adalah posisi permanen, bukan gig.

Fitur project based-nya sendiri relatif baru, sekitar 2-3 tahun terakhir. Jadi ekosistemnya belum serumit Upwork. Banyak perusahaan lokal yang baru “nyobain” hire freelancer lewat Glints, bukan yang udah pro. Bedanya? Proses hiring-nya masih terasa kayak rekrutmen karyawan, bukan hiring vendor.

Platformnya push banget konsep “Glints Talent Pool” di mana lu daftar, verifikasi profil, terus nunggu perusahaan swipe right. Nggak ada sistem bidding kayak Upwork. Ini bisa jadi berkah atau kutuk, tergantung skill lu.

Project Based vs Full Time Remote: Beda Genre, Beda Rasa

Disini letak inti perdebatan. Gue bakal bedahin masing-masing biar lu bisa ngeh aroma yang bakal lu hirup.

Project Based: Cepat, Seru, Tapi Banyak Gotcha

Project-based di Glints biasanya durasinya 1-6 bulan. Rate-nya? Bervariasi banget. Proyek content writer lokal bisa mulai dari Rp 3 juta per bulan untuk 20 artikel. Tapi kalau lu nyambung proyek dari startup Singapore, bisa tembus SGD 1.500-2.500 per bulan untuk role seperti UI designer atau data analyst.

Payment-nya biasanya pakai milestone: 30% di awal, 40% di tengah, 30% di akhir. Tapi ini BUKAN diurus Glints. Lu negosiasi langsung sama klien. Kalau kliennya ghosting? Glints cuma bisa “mediate”, nggak bisa enforce payment. Pernah gue ngalamin startup fintech yang delay payment 2 bulan karena “cash flow lagi ketat”. Lu mau marah, tapi nama perusahaan mereka kan masih di platform, jadi ada reputasinya. Tetap aja, resikonya ada.

Keuntungannya: fleksibilitas. Lu bisa ambil 2-3 project sekaligus kalau lu jago manage waktu. Tapi ingat, karena ini Asia Tenggara, ekspektasi klien sering “fast response”. WhatsApp chat tengah malam? Biasa.

Full Time Remote: Stabil Tapi Bikin Deg-Degan

Full-time remote di Glints itu BUKAN freelance. Lu dapet kontrak kerja, benefit (tergantung perusahaan), dan jadwal 9-6. Bedanya cuma lu kerja dari rumah. Gajinya? Rata-rata untuk developer junior di startup Indonesia Rp 8-12 juta. Senior bisa tembus Rp 20-30 juta. Kalau lu dapet perusahaan Singapore tapi remote dari Indonesia, bisa SGD 3.000-5.000. Itu yang bikin ngiler.

Baca:  Pengalaman Main Di Freelancer.Com: Kenapa Saya Berhenti Dan Pindah Ke Upwork

Tapi ada harganya: lu harus commit. Banyak perusahaan yang tetap require overlap waktu dengan kantor mereka. Jadi lu nggak bisa asal fleksibel. Gue pernah interview sama startup Vietnam yang minta lu standby sampe jam 9 malam karena overlap dengan tim US. Bayangin deh.

Pro hiring-nya juga lebih ribet: 3-4 sesi interview, test, kadang psikotes. Prosesnya bisa 3-4 minggu. Kalau lu cuma cari gig cepat, ini bakal bikin kesel.

Aspek Project Based Full Time Remote
Rate Rata-rata Rp 3-15 juta (IDR) / SGD 500-2.500 (SG) Rp 8-30 juta (IDR) / SGD 3.000-6.000 (SG)
Fee Platform Gratis (lu bayar kalau pake fitur premium) Gratis buat talent (perusahaan yang bayar)
Payment Security Low-Medium (tergantung reputasi klien) High (payroll resmi perusahaan)
Fleksibilitas Tinggi (bisa multi-project) Rendah (commit 40 jam/minggu)
Proses Hiring 1-2 interview, cepat 3-4 sesi, lama
Benefit Nggak ada (kecuali nego) BPJS, cuti, bonus (tergantung perusahaan)

Fee & Payment: Ngomongin Duit, Jujur Aja

Ini yang paling bikin freelancer was-was. Glints sendiri nggak ambil fee dari talent untuk project-based. Mereka cuma charge perusahaan untuk post job dan akses talent pool. Tapi ada triknya: fitur Glints Coins.

Lu bisa beli koin buat boost profil lu supaya muncul di top search. Harganya? Sekitar Rp 50.000 untuk 100 koin. Boosting satu lowongan butuh 20-50 koin. Worth it? Kalau lu lagi desperate, mungkin. Tapi gue lebih milih optimize profil secara organik.

Payment method-nya? Transfer bank langsung, PayPal, atau Wise. Tapi ini SEMUA diurus di luar platform. Glints cuma kasih invoice template. Jadi kalau klien baru, gue selalu minta DP 30% buat secure. Nggak ada escrow service kayak Upwork. Ini risiko besar.

Untuk full-time remote, payment-nya jelas: payroll perusahaan, biasanya tanggal 25-30. Resmi, ada slip gaji, semua aman.

PERHATIAN: Selalu negosiasikan milestone payment untuk project-based di atas Rp 5 juta. Kalau klien nolak kasih DP, red flag besar. Jangan takut nolak. Mending nyari proyek lain daripada nangis di pojokan gara-gara dighosting pas project selesai.

Pengalaman Nyari Kerja di Glints: UI/UX & Dinamika

Interface Glints itu clean, tapi fitur filter-nya masih kurang. Lu nggak bisa filter project-based berdasarkan budget range. Mesti buka satu-satu. Bandingkan sama Upwork yang bisa filter “Fixed Price: $500-$1000”. Ini bikin browsing jadi lama.

Notifikasi-nya juga agak lemot. Gue pernah apply hari Senin, e-mail interview masuk hari Kamis. Padahal lowongan udah ditutup Rabu. Frustrating.

Communication tool-nya? Glints punya chat built-in, tapi 90% klien bakal minta pindah ke WhatsApp atau Telegram “biar cepat”. Ini double-edged sword. Memang responsnya lebih cepat, tapi track record resmi jadi hilang. Kalau terjadi dispute, lu nggak bisa tunjukin screenshot chat WA sebagai bukti di platform.

Baca:  Review Jasa Seo Di Fastwork: Apakah Efektif Meningkatkan Trafik Website Umkm?

Verifikasi profil butuh KTP, portofolio, skill test. Ini bantu banget sih buat nambah credibility. Gue lihat talent yang terverifikasi dapet response rate 3x lebih tinggi dari yang nggak. Worth the effort.

Perbandingan: Glints vs Platform Internasional

Biar lebih jelas, gue bandingin sama platform yang udah mainstream.

vs Upwork: Upwork punya escrow, dispute resolution, dan pasar global. Rate-nya lebih tinggi tapi competition-nya juga lebih gila. Glints lebih “nyaman” buat yang baru mulai, tapi security-nya kalah jauh. Upwork fee 10%, Glints 0% buat talent. Tapi ingat, nggak ada jaminan payment.

vs Fiverr: Fiverr untuk micro-task dan gig instan. Glints untuk project yang lebih kompleks dan long-term. Di Fiverr lu jual template, di Glints lu jual skill dan waktu lu. Beda kelas.

vs Remote.co: Remote.co fokus full-time remote. Glints lebih fleksibel karena ada project-based. Tapi kualitas lowongan remote di Remote.co lebih premium, mostly dari US/EU company.

Kesimpulan singkat: Glints itu gateway drug buat freelancer Asia Tenggara yang mau merambah kerjaan remote tapi nggak mau langsung ngehadep kompetisi global yang brutal.

Tips Survival: Biar Nggak Kecewa

Setelah ngalamin beberapa jatuh bangun, ini checklist gue sebelum apply:

  • Cek company profile. Kalau perusahaan cuma post 1-2 lowongan dan nggak ada review, waspada. Cari mereka di LinkedIn, cek employee count.
  • Nego DP. Minimal 30% untuk project di atas Rp 3 juta. Kalau nggak mau, skip.
  • Definisikan scope jelas. Buat brief kerjaan di Google Docs, share, minta mereka acc. Ini jadi pegangan kalau mereka minta revisi endless.
  • Manfaatkan Glints Coins secara strategis. Jangan boros. Pake cuma untuk boost profil di kategori skill yang lagi trending (cek Google Trends).
  • Join komunitas. Ada banyak Telegram group freelancer yang share red flags perusahaan. Gue pernah di-save dari apply ke startup scam gara-gar info dari group.
  • Untuk full-time remote, cek benefit. Jangan cuma lihat gaji. Tanya BPJS, cuti, bonus. Kalau mereka nggak kasih benefit karena “remote”, itu perusahaan pingitiran.

Kesimpulan: Buat Siapa Sih Glints Ini?

Glints itu bukan platform ajaib yang bakal bikin lu kaya gini hari. Tapi dia punya posisi unik di ekosistem freelance Indonesia.

Lu cocok di Glints kalau:

  • Lu baru mulai freelance dan butuh portofolio
  • Lu nyari full-time remote dengan gaji layak tanpa pindah negara
  • Lu punya skill yang relevan buat pasar Asia Tenggara (bahasa Mandarin, Bahasa Indonesia, UI/UX dengan selera Asian market)
  • Lu nggak masalah dengan negosiasi payment manual

Lu mending skip Glints kalau:

  • Lu udah pro dan butuh payment security tingkat tinggi
  • Rate lu di atas $50/jam (cari klien US/EU aja)
  • Lu butuh kerjaan cepat tanpa interview panjang
  • Lu nggak bisa bahasa Inggris pasif (banyak lowongan yang require minimal komunikasi tulis)

Glints itu kayak warung kopi lokal di tengah kota: nggak sekeren Starbucks, tapi ngerti selera lu dan harganya lebih masuk akal. Kadang ada ibu-nya yang cerewet (klien rese), tapi kadang juga ada tetangga yang baik banget (klien langganan). Intinya, paham aturannya, jangan terlalu naif, dan selalu siap plan B.

Pilihan ada di tangan lu. Gue cuma bisa bilang: start small, validate klien, dan jangan pernah kirim final file sebelum dapet final payment. Good luck!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Review 99Designs: Apakah Kompetisi Desainnya Masih Worth It Di Tahun 2025?

Kalau kamu desainer grafis, pasti pernah denger atau bahkan nyicip rasanya ikut…

Pengalaman Main Di Freelancer.Com: Kenapa Saya Berhenti Dan Pindah Ke Upwork

Gue masih inget jelas, 2016, ngabisin 2 jam nulis proposal di Freelancer.com…

Review Jasa Seo Di Fastwork: Apakah Efektif Meningkatkan Trafik Website Umkm?

UMKM butuh trafik, tapi budget terbatas. Bayar agency SEO besar? Belum tentu…

Flexjobs Review Indonesia: Apakah Layak Bayar Membership Untuk Cari Kerja Remote?

Bayar untuk cari kerja? Kedengarannya aneh, kayak harus ngasih uang dulu baru…