Pernah denger freelancer ribut-ribut soal Sribu vs Sribulancer? Biasanya debatnya panjang soal fee, klien, dan mana yang lebih “ngasih makan”. Tapi sebelum kita terlalu jauh, ada satu fakta mengejutkan: Sribulancer udah nggak ada lagi sejak 2019. Iya, platform itu sudah merger ke Sribu. Jadi pertanyaan sebenarnya bukan “mana yang lebih menguntungkan”, tapi “apa bedanya dulu, dan apakah Sribu di 2024 ini masih worth it buat kamu?”

Kenapa Pertanyaan Ini Masih Relevan?
Banyak freelancer baru yang baca artikel lama di Google dan masih penasaran. Mereka lihat nama Sribulancer di forum atau grup Facebook, lalu bingung kok platform itu nggak ada. Padahal, pengalaman dari era Sribulancer masih jadi referensi karena culturally, itu era emas freelance lokal sebelum platform global seperti Upwork dan Fiverr benar-benar dominan.
Jadi mari kita bahas dulu apa yang membuat Sribulancer legendaris, terus bandingin sama realita Sribu sekarang. Siapa tahu kamu yang baru mulai bisa ngambil pelajaran dari perbedaan ini.
Sribulancer: Kenangan Manis Era 2010-an
Sribulancer itu platform direct hire murni. Klien posting job, freelancer ngasih proposal, negosiasi langsung, deal. Nggak ada sistem kontes. Fee-nya cuma 10% yang dipotong dari freelancer. Bayangin, klien bayar Rp 5 juta, kamu dapet Rp 4,5 juta. Itu sudah termasuk potongan transfer dan platform. Enak, kan?
Kliennya juga mayoritas dari Indonesia: startup lokal, UMKM, bahkan perusahaan menengah yang lagi digital transformation. Komunikasinya pake Bahasa Indonesia, bayar lewat transfer bank lokal. Nggak perlu ribet mikirin PayPal fee atau currency conversion.
Kenapa Sribulancer Ditutup?
Model bisnis direct hire itu susah skalanya. Sribulancer butuh banyak tenaga customer service untuk mediasi dispute, verifikasi klien, dan jaga kualitas. Di sisi lain, Sribu punya model kontes yang lebih otomatis dan scalable. Jadi, merger adalah pilihan logis. Sayangnya, banyak freelancer merasa “kehilangan rumah” karena kultur kerjanya beda banget.
Warning: Jangan percaya kalau ada yang bilang bisa daftar Sribulancer sekarang. Situsnya udah redirect ke Sribu semua. Yang ada cuma Sribu.
Sribu 2024: Realita Setelah Merger
Sekarang Sribu itu hybrid. Ada dua model utama: Kontes Desain dan Project Direct. Tapi let’s be real, mayoritas orang kenal Sribu karena kontes desainnya. Itu identitas platform ini.
Model Kontes: Main di Zona Nyaman (atau Nyerang?)
Di sini, klien posting brief, kamu submit karya. Bisa ada puluhan bahkan ratusan peserta. Pemenang cuma satu (kadang dua). Bayaran? Rp 500 ribu sampai Rp 5 juta untuk logo. Rp 1 juta sampai Rp 10 juta untuk branding lengkap. Kedengarannya lumayan, tapi…
Hitung-hitungan realistisnya: Kamu bikin 3-5 variasi konsep untuk satu kontes. Butuh waktu 2-3 jam per konsep. Kalau ikut 10 kontes sebulan, total waktu habis 30-50 jam. Menang 2-3 kontes? Itu udah bagus banget. Dapet Rp 3 juta. Hitung-hitung, rate per jam kamu Rp 60 ribu. Belum lagi revisi kalau menang.
Fee Sribu di kontes ini 20%. Jadi kalau hadiah Rp 5 juta, kamu dapet Rp 4 juta. Lumayan, tapi ya itu tadi: nggak pasti.
Project Direct: Sisa-sisa Sribulancer
Fitur ini masih ada. Klien bisa hire freelancer langsung tanpa kontes. Fee-nya juga 20%. Range harga lebih tinggi. Project website development bisa Rp 15-50 juta. Branding lengkap Rp 20-30 juta. Tapi…
Volume project direct di Sribu nggak sebanyak kontes. Klien yang datang ke Sribu udah terbiasa dengan model kontes. Mereka mikirnya: “Kenapa harus bayar mahal, kalau bisa dapet 50 pilihan desain dengan harga murah?” Jadi mindset-nya beda. Kamu harus jago jualan diri kalau mau sukses di sini.
Perbandingan Tabel: Sribu vs Sribulancer (Era Masing-masing)
| Aspek | Sribu (2024) | Sribulancer (2018) |
|---|---|---|
| Model Utama | Kontes Desain (70%) + Direct Hire (30%) | Direct Hire 100% |
| Fee Platform | 20% | 10% |
| Range Proyek Kecil | Rp 500 ribu – 3 juta (kontes) | Rp 2 – 5 juta (direct) |
| Range Proyek Besar | Rp 10 – 50 juta (direct) | Rp 10 – 100 juta (direct) |
| Klien Utama | UKM, startup lokal, perorangan | Startup, perusahaan menengah |
| Proses Kerja | Kontes atau direct brief | Brief langsung, negosiasi |
| Payment | Escrow Sribu, transfer lokal | Escrow Sribulancer, transfer lokal |
| Komunikasi | Via platform (terbatas) | Via platform + bisa WA/email |
Mana yang Lebih Menguntungkan? Jawaban Realistisnya
Secara finansial, Sribulancer lebih menguntungkan kalau kita ngomong soal fee dan kepastian kerja. Tapi itu dulu. Sekarang kamu cuma punya satu pilihan: Sribu. Jadi pertanyaannya harusnya: “Gimana cara makin duit di Sribu tanpa burnout?”
Strategi Ngirit Energi di Sribu
Pilih kontes dengan bijak. Jangan ikut kontes yang pesertanya udah 50+. Cari brief yang spesifik, klien yang aktif respon di kolom komentar. Itu tanda mereka serius. Juga cek history klien: pernah ngadain kontes berapa kali? Bayarannya兑现 nggak?
Manfaatin Project Direct. Ini hidden gem. Bikin portofolio di Sribu yang keren, terus aktifin notifikasi untuk project direct. Kadang ada klien yang butuh cepat dan nggak mau ribet kontes. Rate-nya bisa 2-3x lipat dari kontes.
Jangan jadi “kontes hunter”. Aku pernah kenal designer yang ikut 30 kontes sebulan. Menang 5. Dapet Rp 10 juta. Tapi dia kerja 12 jam sehari, 7 hari seminggu. Burnout total. Sekarang dia pivot ke Fiverr dan dapet passive income lebih banyak.
Alternatif di Luar Sribu
Kalau kamu kangen vibe Sribulancer, coba platform ini:
- Fastwork.id: Model direct hire, fee 20%, tapi banyak klien lokal. Range harga mirip Sribulancer dulu.
- Upwork: Fee sliding scale (5-20%), tapi pasar global. Rate bisa lebih tinggi. Bikin profile bagus, target klien US/Australia.
- Fiverr: Passive income. Bikin gig, tunggu order. Fee 20%. Cocok buat service yang terstruktur (logo design, voice over, dll).
- LinkedIn: Direct outreach ke founder startup. Nggak ada fee. Tapi butuh skill jualan dan personal branding.
Kesimpulan: Sribu Masih Worth It?
Yes, tapi dengan catatan. Sribu masih viable buat freelancer pemula yang butuh portofolio cepat dan pengalaman kerja sama dengan klien lokal. Tapi kalau kamu udah intermediate ke atas, jangan bergantung sama Sribu doang. Gunain Sribu sebagai salah satu channel, bukan satu-satunya.
Aku pribadi masih login ke Sribu 2-3 kali sebulan. Cuma ikut 1-2 kontes yang bener-bener worth it. Sisanya, fokus di Upwork dan direct client dari LinkedIn. Income jauh lebih stabil, dan nggak perlu ngerasain pahitnya kalah kontes 10 kali berturut-turut.
Final thought: Platform itu cuma alat. Yang penting skill kamu, speed, dan kemampuan jualan diri. Sribulancer udah jadi legenda, tapi pelajarannya masih hidup: direct relationship sama klien itu yang paling menguntungkan, secara finansial dan mental health.